Budidaya Ikan Nila
·
Pembenihan
a.
Kontruksi Kolam
Kontruksi kolam yang digunakan
merupakan penyempurnaan dari kontruksi sebelumnya yang menggunakan pintu monik
sebagai out let. Outlet kolam menggunakan “standing pipe”. Kontruksi ini tidak
memerlukan kayu papan untuk menutup pintu pengeluaran kolam (outlet), saat
pemanenan cukup dengan memiringkan pipa sedikit demi sedikit sehingga larva
tidak terbawa arus kuat, kematian larva dan induk pun relatif sangat sedikit.
Tenaga kerja efisien dan efektif, yaitu cukup dua orang untuk kolam dengan luas
800 m2. Konstruksi dasar kolam dilengkapi dengan bak yaitu disebut dengan
istilah kobakan berbentuk persegi panjang dengan luas sekitar 0,5 sampai 1,5%
dari luas kolam, dan tingginya 50-70 cm. dibuat dekat outlet kolam, dengan
fungsi utamanya adalah sebagai tempat berkumpulnya induk dan larva pada saat
pemanenan. Saluran dasar kolam (kemalir) dibuat dari inlet hingga ke kobakan
yang berfungsi untuk memudahkan induk dan larva dapat berkumpul dalam kobakan
pada saat panen.
b.
Persiapan Kolam
Persiapan kolam untuk kegiatan
pemijahan ikan nila antara lain peneplokan/ perapihan pematang agar pematang
tidak bocor, meratakan dasar kolam dengan kemiringan mengarah ke kemalir,
membersihkan bak kobakan, menutup pintu pengeluaran dengan paralon, pemasangan
saringan di pintu pemasukan serta pengisian kolam dengan air. Pemasangan
saringan dimaksudkan untuk menghindari masuknya ikan-ikan liar sebagai predator
atau kompetitor yang dapat mempengaruhi kuantitas hasil produksi maupun
kualitas benih yang dihasilkan.
c.
Pemijahan
BBAT Sukabumi mengembangkan sistem
pengelolaan induk dalam satu unit produksi benih dengan mempertimbangkan
bilangan pemijah. Jumlah induk dalam satu populasi pemijahan secara masal
disebut satu paket. Satu paket induk berjumlah 400 ekor yang terdiri dari 100
ekor jantan dan 300 ekor betina (Ne = ±133,3). Dengan induk sejumlah ini
diharapkan dapat menghambat laju silang dalam dan memungkinkan keturunannya
dapat dijadikan induk kembali setelah melalui kegiatan seleksi.
Penebaran induk dilakukan pada pagi
hari saat suhu udara dan air masih rendah. Padat tebar induk adalah 1 ekor/m2,
sehingga satu paket induk sebanyak 400 ekor memerlukan lahan untuk pemijahan
seluas 400 m2. Satu periode pemijahan berlangsung selama 10 hari untuk dapat
dilakukan pemanenan larva. Proses pemijahan sendiri dapat berlangsung selama
delapan periode pemijahan dengan delapan kali pemanenan larva, tanpa harus
mengangkat induk. Setelah akhir periode, induk diangkat dari kolam pemijahan
dan dipelihara secara terpisah antara jantan dan betina untuk pematangan gonad
selama 15 hari. Selanjutnya paket induk tersebut dimasukkan kembali kedalam
kolam pemijahan yang telah dipersiapkan sebelumnya.
d.
Pengelolaan Pakan dan Air
Dosis pemberian pakan adalah 3% dari
bobot biomas untuk lima hari pertama pemijahan dan 2-2,5% untuk lima hari
berikutnya sampai panen larva. Penurunan dosis pemberian pakan ini disesuaikan
dengan kondisi bahwa sebagian induk betina sedang mengerami telur dan larva.
Pakan yang diberikan harus cukup mengandung protein ( 28-30%).
Selama pemijahan debit air diatur
dalam dua tahap, yakni 5 hari pertama lebih besar 5 hari kedua. Debit air dalam
5 hari pertama adalah dalam rangka meningkatkan kandungan oksigen dalam air,
memacu nafsu makan induk disamping mengganti air yang menguap. Dengan demikian
air yang mengalir ke kolam terlimpas ke luar kolam melalui saluran pengeluaran.
Sedangkan untuk 5 hari kedua debit
air hanya dimaksudkan untuk mengganti air yang terbuang melalui penguapan
sedemikian rupa tanpa melimpaskan air ke luar kolam. Hal ini untuk menghindari
hanyutnya larva juga menghindari limpasnya pakan alami yang terdapat di kolam
pemijahan, sebagai makanan awal bagi larva.
e.
Panen Larva
Panen larva dilakukan setiap sepuluh
hari sekali pada pagi hari. Tergantung luas kolam, penyurutan kolam dapat mulai
disurutkan sehari sebelumnya. Penyurutan air kolam dilakukan pertama-tama
sampai setengah-nya. Sebelum surut total, bak tempat panen larva perlu
dibersihkan dari lumpur dengan cara membuka sumbat outlet kobakan. Penyusutan
secara total dilakukan sampai air hanya tersisa pada kobakan saja. Induk dan
larva akan berkumpul pada kobakan, dan segera dilakukan pengambilan larva
menggunakan scoop net. Kemudian larva ditampung sementara dalam hapa ukuran 2 x
2 x 1 m3 dengan mesh size 1,0 mm. Proses pengambilan larva ini dapat dilakukan
oleh dua orang. Pemungutan larva dilakukan secara total sampai bersih termasuk
yang masih terdapat dalam sarang, dengan cara membongkar sarang dan mengarahkan
larva ke kobakan.
Sarang tempat pemijahan induk nila
yang berbentuk bulat di dasar kolam perlu dihitung untuk menaksir jumlah induk
yang memijah dan diratakan kembali. Ukuran larva yang dipanen ada dua ukuran,
untuk itu perlu dilakukan sortasi menggunakan hapa mesh size 1,5 mm. Jumlah
induk betina yang memijah sebanyak 30-40% dengan perolehan larva sebanyak
60.000-80.000 ekor/paket/10 hari
Larva ukuran kecil ( 9,0 sampai 13
mm) dapat digunakan untuk tujuan jantanisasi menggunakan pakan berhormon.
Sedangkan larva ukuran besar dapat langsung didederkan dalam wadah pendederan.
2.Pendederan
a.
Kontruksi kolam
Kontruksi kolam pendederan sama
dengan untuk pemijahan. Tujuan lain dari kontruksi yang sama tersebut adalah
bahwa antara kolam induk dan kolam benih dapat saling bergantian dalam
penggunaannya.
b.
Persiapan Kolam
Persiapan kolam untuk kegiatan
pendederan ikan nila antara lain peneplokan pematang dengan kontruksi tanah,
meratakan dasar kolam dengan kemiringan mengarah ke kemalir, membersihkan bak
kobakan, menutup pintu pengeluaran dengan paralon, pemasangan penyaring di
pintu pemasukan air, pemupukan dengan dosis 250-500 gram/m2 (sesuai dengan
kesuburan tanah dan air), pengapuran (bila perlu) serta pengisian kolam dengan
air. Pemasangan penyaring dimaksudkan untuk menghindari masuknya predator,
ikan-ikan lain dan atau ikan nila jenis lain yang dapat mempengaruhi tidak
hanya dari segi kuantitas hasil produksi, tetapi juga kualitas benih yang
dihasilkan.
c. Padat
Tebar
Pendederan ikan nila dilakukan dalam
dua atau tiga tahap. Pendederan tiga dapat langsung merupakan lanjutan dari
pendederan kedua. Lama pendederan pertama adalah 30 hari dengan target benih
berukuran 3-5 cm. Pendederan kedua dan ketiga, masing-masing juga 30 hari.
Benih hasil pendederan ketiga berukuran sekitar 20-30 gram/ekor. Padat tebar
pendederan pertama adalah 100-200 ekor/m2, sedangkan untuk pendederan kedua dan
ketiga masing-masing 75-100 dan 50 ekor/m2.
d.
Pengelolaan Pakan dan Air
Dosis pemberian pakan pendederan 1,
2 dan 3 masing-masing adalah 20, 10 dan 5% dari bobot biomas/hari. Pakan diberikan
sehari 3 kali. Kandungan protein dalam pakan sekitar 26-28%.
Debit air dalam pendederan satu dan
kedua tidak terlalu besar, yakni sekedar mengganti air yang menguap dan rembes.
Namun untuk pendederan ketiga debit air juga dimaksudkan untuk meningkatkan
daya dukung media terutama ketersedian oksigen yang berguna dan dapat
meningkatkan nafsu makan serta laju pertumbuhan.
e. Panen
Benih
Panen benih harus dilakukan pada
saat suhu air kolam dan udara relatif sejuk, terutama pada pagi hari. Hal ini
untuk menekan angka kematian saat panen. Langkah-langkah kerja dalam aktifitas
panen benih sama halnya dengan kegiatan panen larva
f.
Kriteria Mutu Benih Ikan Nila
Selain penguasaan teknik pembenihan,
para pembenih juga sangat dianjurkan mengetahui kriteria benih yang sesuai
dengan SNI. Berikut ini merupakan kriteria mutu benih ikan nila hitam
berdasarkan SNI 01-6140-1999, yang terdiri dari kriteria kualitatif (Tabel 1)
dan kriteria kuantitatif (Tabel 2).
Kriteria
|
Larva
|
Benih
|
Asal
|
Hasil penetasan telur dari pemijahan
induk kelas pokok antara induk jantan dan induk betina bukan satu keturunan
(jangan inbreeding)
|
Larva berumur sekitar 7 hari,
hasil pemijahan induk kelas induk pokok antara jantan dan betina yang tidak
satu keturunan
|
Warna
|
Hitam
|
Bagian perut berwarna putih,
bagian punggung berwarna gelap sampai hijau kelabu
|
Bentuk tubuh
|
Normal
|
Normal
|
Gerakan
|
Bergerak di permukaan sampai dasar
wadah
|
Bergerombol di permukaan tepi
wadah dan aktif menyongsong air baru serta ekor bergerak sangat cepat
sehingga tidak terlihat jelas gerakannya
|
Kriteria
|
Satuan
|
Larva
|
Pend.I
|
Pend. II
|
Pend. III
|
Umur
|
Hari
|
7
|
30
|
60
|
90
|
Panjang total
|
Cm
|
0,6 – 0,7
|
3-5
|
5-8
|
8-12
|
Bobot minimal
|
Gram
|
0,02
|
1,5
|
3,0
|
15
|
Keseragaman ukuran
|
%
|
90
|
90
|
80
|
80
|
Keseragaman warna
|
%
|
90
|
90
|
100
|
100
|
Keseragaman kelincahan gerak akibat rangsangan luar
|
%
|
80-90
|
90-100
|
90-100
|
90-100
|
Keseragaman gerak melawan arus
|
%
|
80-90
|
90-100
|
90-100
|
90-100
|
Ukuran panen
|
Cm
|
3-5
|
5-8
|
8-10
|
10-12
|
TEKSTUR
TANAH YANG ADA DI LAPANG
Melalui praktikum waktu di
Blitar,kolam tersebut menggunakan tekstur tanah berpasir atau tanah resogol
yang dapat digunakan dalam dilakukan
pemupukan dan kesuburan perairan, maka didapatkan beberapa aplikasi ilmu
tanah dalam perikanan, antara lain adalah:
- Kita dapat menentukan jenis dan tekstur tanah apa yang
baik untuk membuat kolam budidaya, terutama jenis kolam tradisional yang
paling baik menggunakan jenis tanah lempung berpasir.
- Pembudidaya ikan dapat mengetahui jenis pupuk mana yang
baik untuk suatu kolam budidaya dalam parameter kesuburan kolam dan
kepadatan plankton.
- Banyak pembudidaya di kolam maupun di tambak
menggunakan tanah jenis lempung berpasir, karena tingkat porositasnya yang
rendah dan banyak mengandung unsur – unsur hara.
- Pemberian dosis pupuk (baik organic maupun pupuk
buatan) yang tepat bagi kolam dan kesuburan kolam budidaya.
- Kita dapat menentukan suatu tekstur tanah dengan
mengetahui cara pengambilan contoh tanah baik secar utuh ataupun
sederhana, sehingga dapat pula menentukan tingkat porositas suhu tanah
yang hendak digunakan untuk substrat kolam tradisional.
- Dapat mempelajari ilmu tanah, pembudidaya akan dapat
mengetahui baik pH tanah, pH perairan, dan oksigen terlarut (DO) yang
optimum bagi suatu kolam budidaya.
KONDISI
LINGKUNGAN DI SEKITAR KOLAM BUDIDAYA
Kolam
tempat budidayanya bersebelahan dengan sungai yang mengalir dan tidak terlalu
deras sehingga dapat dimanfaatkan sebagai sumber air untuk budidaya.Kondisi
lingkungan kolam budidaya agar tetap baik dan terjaga harus memiliki kriteria
sebagai berikut :
1.Lokasi
Dalam pemilihan lokasi, tekstur
tanah adalah bagian yang perlu diperhatikan. Jenis tanah yang baik untuk kolam
pemeliharaan adalah jenis tanah liat berpasir (Badan Standardisasi Nasional,
2006). Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar dan tidak bocor
sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam.
2.Kemiringan
tanah
Kemiringan tanah yang baik untuk
pembuatan kolam berkisar antara 3?5% untuk memudahkan pengairan kolam secara
gravitasi. Kawasan perkolaman bebas banjir dan penceamaran serta sesuai dengan
rencana tata ruang dan wilayah. Ikan gurami dapat tumbuh normal, jika lokasi
pemeliharaan berada pada ketinggian 1?400 m di atas permukaan laut (Badan
Standardisasi Nasional, 2006).
3.Sumber
air
Sumber air merupakan faktor dominan
yang menentukan keberhasilan budidaya gurami dengan kualitas air yang baik.
Sumber air dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu air permukaan dan air
tanah. Air permukaan adalah air yang mengalir masuk ke kolam mengikuti arah
gravitasi misalnya saluran irigasi, air hujan, air sungai, air danau dan mata
air. Air tanah yang berasal dari sumur, baik sumur artesis maupun sumur dalam.
Air yang baik yaitu tidak tercemar oleh cemaran fisik, kimia dan biologi dari
alam, industri, pemukiman dan pertanian (Badan Standardisasi Nasional, 2006).
Salah satu syarat utama budidaya gurami adalah air yang bersih. Karena itu
hindari pemakaian air yang keruh dan kotor. Sebab jika kotoran itu bercampur
dengan pakan, bakal memicu timbulnya bakteri, parasit dan cacing (Agus, 2001).
4.Kualitas Air
Konsentrasi oksigen terlarut sangat
penting bagi parameter kualitas air karena dibutuhkan dalam berbagai aktifitas
fisik ikan. Kandungan oksigen optimum yang dapat menunjang pertumbuhan ikan
adalah 2 mg/l (Badan Standardisasi Nasional, 2006).
Gurami tergolong ikan yang sangat peka terhadap perubahan suhu. Menurut Khairuman dkk (2003) gurami tergolong ikan yang peka terhadap suhu rendah sehingga jika suhu perairan lebih rendah daripada kisaran suhu optimal, gurami tidak akan produktif. Ikan mempunyai batas suhu tinggi dan rendah serta suhu optimal untuk pertumbuhan, inkubasi telur, konversi makanan dan resistensi/ketahanan terhadap penyakit tertentu. Batas optimim suhusangat bergantung pH, kandungan oksigen dan faktor lain seperti ketinggian tempat, kedalaman air dan cuaca. Suhu optimal untuk pertumbuhan adalah 25?300C (Badan Standardisasi Nasional, 2006).
Ikan gurami dapat tumbuh dengan baik pada perairan dengan kisaran pH 5?10. Namun pH optimum yang dapat menunjang perkembangan dengan baik adalah 6,5?8,5
Gurami tergolong ikan yang sangat peka terhadap perubahan suhu. Menurut Khairuman dkk (2003) gurami tergolong ikan yang peka terhadap suhu rendah sehingga jika suhu perairan lebih rendah daripada kisaran suhu optimal, gurami tidak akan produktif. Ikan mempunyai batas suhu tinggi dan rendah serta suhu optimal untuk pertumbuhan, inkubasi telur, konversi makanan dan resistensi/ketahanan terhadap penyakit tertentu. Batas optimim suhusangat bergantung pH, kandungan oksigen dan faktor lain seperti ketinggian tempat, kedalaman air dan cuaca. Suhu optimal untuk pertumbuhan adalah 25?300C (Badan Standardisasi Nasional, 2006).
Ikan gurami dapat tumbuh dengan baik pada perairan dengan kisaran pH 5?10. Namun pH optimum yang dapat menunjang perkembangan dengan baik adalah 6,5?8,5
Cara menetralkan pH yang terlalu
asam dilakukan dengan penambahan kapur (CaCO3) atau soda kue ke dalam air dan
jika terlalu basa dilakukan dengan penambahan asama fosfor .
Sisa pakan berlebih merupakan sumber amoniak. Pada pH tinggi, amoniak menjadi bentuk tidak ter?ion yang beracun. Perubahan mendadak dapat mengakibatkan insang rusak. Nafsu makan ikan dan pertumbuhan akan terhambat pada konsentrasi 0,08 mg/l, dan kematian akan terjadi pada 0,1 mg/l.
Fluktuasi (perubahan) alkalinitasyang cukup drastis akan membahayakan ikan. Kejadian itu dapat dicegah bila perairan mempunyai system buffer yang memadai (mengandung mineral bikarbonat, bikarbonat, borat dan silikat).
Sisa pakan berlebih merupakan sumber amoniak. Pada pH tinggi, amoniak menjadi bentuk tidak ter?ion yang beracun. Perubahan mendadak dapat mengakibatkan insang rusak. Nafsu makan ikan dan pertumbuhan akan terhambat pada konsentrasi 0,08 mg/l, dan kematian akan terjadi pada 0,1 mg/l.
Fluktuasi (perubahan) alkalinitasyang cukup drastis akan membahayakan ikan. Kejadian itu dapat dicegah bila perairan mempunyai system buffer yang memadai (mengandung mineral bikarbonat, bikarbonat, borat dan silikat).
Kekeruhanmempengaruhi daya ikat air terhadap oksigen. Air keruh menyebabkan ikan kekurangan oksigen, nafsu makan berkurang, batas pandang ikan berkurang serta tertutupnya insang oleh partikel lumpur. Menurut Khairuman dkk (2003), gurami paling menyukai perairan yang jernih, tenang dan tidak banyak mengandung lumpur. Kecerahan air optimum yang dapat menunjang kehidupan ikan gurami yaitu 40?60
Aspek
Ekonomis
Lahan yang digunakan dapat menunjang
keberlangsungan usaha budidaya, antara lain akses jalan dan pasar. Kemudahan
transportasi dapat memperlancar penyediaan sarana dan prasarana budidaya.
Kemudahan memasarkan hasil panen ke pasar bahkan pembeli bisa langsung dapat
mendatangi lokasi panen budidaya dan memberi tambahan keuntungan bagi
pembudidaya.
Aspek Sosial
Aspek Sosial
Area budidaya harus memberikan
dampak positif bagi masyarakat sekitar, antara lain meningkatnya pengetahuan
dan keterampilan masyarakat, kesempatan usaha dan penyerapan tenaga kerja,
serta memenuhi kebutuhan protein hewani. Dengan pemberdayaan masyarakat di
sekitar lokasi dapat menjamin keamanan areal budidaya dan keberhasilan usaha.






0 comments:
Post a Comment