This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Sunday, May 3, 2015

Kegiatan Akuakultur

 Budidaya Ikan Nila

·         Pembenihan

a. Kontruksi Kolam
Kontruksi kolam yang digunakan merupakan penyempurnaan dari kontruksi sebelumnya yang menggunakan pintu monik sebagai out let. Outlet kolam menggunakan “standing pipe”. Kontruksi ini tidak memerlukan kayu papan untuk menutup pintu pengeluaran kolam (outlet), saat pemanenan cukup dengan memiringkan pipa sedikit demi sedikit sehingga larva tidak terbawa arus kuat, kematian larva dan induk pun relatif sangat sedikit. Tenaga kerja efisien dan efektif, yaitu cukup dua orang untuk kolam dengan luas 800 m2. Konstruksi dasar kolam dilengkapi dengan bak yaitu disebut dengan istilah kobakan berbentuk persegi panjang dengan luas sekitar 0,5 sampai 1,5% dari luas kolam, dan tingginya 50-70 cm. dibuat dekat outlet kolam, dengan fungsi utamanya adalah sebagai tempat berkumpulnya induk dan larva pada saat pemanenan. Saluran dasar kolam (kemalir) dibuat dari inlet hingga ke kobakan yang berfungsi untuk memudahkan induk dan larva dapat berkumpul dalam kobakan pada saat panen.
b. Persiapan Kolam
Persiapan kolam untuk kegiatan pemijahan ikan nila antara lain peneplokan/ perapihan pematang agar pematang tidak bocor, meratakan dasar kolam dengan kemiringan mengarah ke kemalir, membersihkan bak kobakan, menutup pintu pengeluaran dengan paralon, pemasangan saringan di pintu pemasukan serta pengisian kolam dengan air. Pemasangan saringan dimaksudkan untuk menghindari masuknya ikan-ikan liar sebagai predator atau kompetitor yang dapat mempengaruhi kuantitas hasil produksi maupun kualitas benih yang dihasilkan.
c. Pemijahan
BBAT Sukabumi mengembangkan sistem pengelolaan induk dalam satu unit produksi benih dengan mempertimbangkan bilangan pemijah. Jumlah induk dalam satu populasi pemijahan secara masal disebut satu paket. Satu paket induk berjumlah 400 ekor yang terdiri dari 100 ekor jantan dan 300 ekor betina (Ne = ±133,3). Dengan induk sejumlah ini diharapkan dapat menghambat laju silang dalam dan memungkinkan keturunannya dapat dijadikan induk kembali setelah melalui kegiatan seleksi.

Penebaran induk dilakukan pada pagi hari saat suhu udara dan air masih rendah. Padat tebar induk adalah 1 ekor/m2, sehingga satu paket induk sebanyak 400 ekor memerlukan lahan untuk pemijahan seluas 400 m2. Satu periode pemijahan berlangsung selama 10 hari untuk dapat dilakukan pemanenan larva. Proses pemijahan sendiri dapat berlangsung selama delapan periode pemijahan dengan delapan kali pemanenan larva, tanpa harus mengangkat induk. Setelah akhir periode, induk diangkat dari kolam pemijahan dan dipelihara secara terpisah antara jantan dan betina untuk pematangan gonad selama 15 hari. Selanjutnya paket induk tersebut dimasukkan kembali kedalam kolam pemijahan yang telah dipersiapkan sebelumnya.
d. Pengelolaan Pakan dan Air
Dosis pemberian pakan adalah 3% dari bobot biomas untuk lima hari pertama pemijahan dan 2-2,5% untuk lima hari berikutnya sampai panen larva. Penurunan dosis pemberian pakan ini disesuaikan dengan kondisi bahwa sebagian induk betina sedang mengerami telur dan larva. Pakan yang diberikan harus cukup mengandung protein ( 28-30%).

Selama pemijahan debit air diatur dalam dua tahap, yakni 5 hari pertama lebih besar 5 hari kedua. Debit air dalam 5 hari pertama adalah dalam rangka meningkatkan kandungan oksigen dalam air, memacu nafsu makan induk disamping mengganti air yang menguap. Dengan demikian air yang mengalir ke kolam terlimpas ke luar kolam melalui saluran pengeluaran.
Sedangkan untuk 5 hari kedua debit air hanya dimaksudkan untuk mengganti air yang terbuang melalui penguapan sedemikian rupa tanpa melimpaskan air ke luar kolam. Hal ini untuk menghindari hanyutnya larva juga menghindari limpasnya pakan alami yang terdapat di kolam pemijahan, sebagai makanan awal bagi larva.
e. Panen Larva
Panen larva dilakukan setiap sepuluh hari sekali pada pagi hari. Tergantung luas kolam, penyurutan kolam dapat mulai disurutkan sehari sebelumnya. Penyurutan air kolam dilakukan pertama-tama sampai setengah-nya. Sebelum surut total, bak tempat panen larva perlu dibersihkan dari lumpur dengan cara membuka sumbat outlet kobakan. Penyusutan secara total dilakukan sampai air hanya tersisa pada kobakan saja. Induk dan larva akan berkumpul pada kobakan, dan segera dilakukan pengambilan larva menggunakan scoop net. Kemudian larva ditampung sementara dalam hapa ukuran 2 x 2 x 1 m3 dengan mesh size 1,0 mm. Proses pengambilan larva ini dapat dilakukan oleh dua orang. Pemungutan larva dilakukan secara total sampai bersih termasuk yang masih terdapat dalam sarang, dengan cara membongkar sarang dan mengarahkan larva ke kobakan.
Sarang tempat pemijahan induk nila yang berbentuk bulat di dasar kolam perlu dihitung untuk menaksir jumlah induk yang memijah dan diratakan kembali. Ukuran larva yang dipanen ada dua ukuran, untuk itu perlu dilakukan sortasi menggunakan hapa mesh size 1,5 mm. Jumlah induk betina yang memijah sebanyak 30-40% dengan perolehan larva sebanyak 60.000-80.000 ekor/paket/10 hari

Larva ukuran kecil ( 9,0 sampai 13 mm) dapat digunakan untuk tujuan jantanisasi menggunakan pakan berhormon. Sedangkan larva ukuran besar dapat langsung didederkan dalam wadah pendederan.

2.Pendederan

a. Kontruksi kolam
Kontruksi kolam pendederan sama dengan untuk pemijahan. Tujuan lain dari kontruksi yang sama tersebut adalah bahwa antara kolam induk dan kolam benih dapat saling bergantian dalam penggunaannya.
b. Persiapan Kolam
Persiapan kolam untuk kegiatan pendederan ikan nila antara lain peneplokan pematang dengan kontruksi tanah, meratakan dasar kolam dengan kemiringan mengarah ke kemalir, membersihkan bak kobakan, menutup pintu pengeluaran dengan paralon, pemasangan penyaring di pintu pemasukan air, pemupukan dengan dosis 250-500 gram/m2 (sesuai dengan kesuburan tanah dan air), pengapuran (bila perlu) serta pengisian kolam dengan air. Pemasangan penyaring dimaksudkan untuk menghindari masuknya predator, ikan-ikan lain dan atau ikan nila jenis lain yang dapat mempengaruhi tidak hanya dari segi kuantitas hasil produksi, tetapi juga kualitas benih yang dihasilkan.

c. Padat Tebar
Pendederan ikan nila dilakukan dalam dua atau tiga tahap. Pendederan tiga dapat langsung merupakan lanjutan dari pendederan kedua. Lama pendederan pertama adalah 30 hari dengan target benih berukuran 3-5 cm. Pendederan kedua dan ketiga, masing-masing juga 30 hari. Benih hasil pendederan ketiga berukuran sekitar 20-30 gram/ekor. Padat tebar pendederan pertama adalah 100-200 ekor/m2, sedangkan untuk pendederan kedua dan ketiga masing-masing 75-100 dan 50 ekor/m2.

d. Pengelolaan Pakan dan Air
Dosis pemberian pakan pendederan 1, 2 dan 3 masing-masing adalah 20, 10 dan 5% dari bobot biomas/hari. Pakan diberikan sehari 3 kali. Kandungan protein dalam pakan sekitar 26-28%.
Debit air dalam pendederan satu dan kedua tidak terlalu besar, yakni sekedar mengganti air yang menguap dan rembes. Namun untuk pendederan ketiga debit air juga dimaksudkan untuk meningkatkan daya dukung media terutama ketersedian oksigen yang berguna dan dapat meningkatkan nafsu makan serta laju pertumbuhan.

e. Panen Benih
Panen benih harus dilakukan pada saat suhu air kolam dan udara relatif sejuk, terutama pada pagi hari. Hal ini untuk menekan angka kematian saat panen. Langkah-langkah kerja dalam aktifitas panen benih sama halnya dengan kegiatan panen larva

f. Kriteria Mutu Benih Ikan Nila
Selain penguasaan teknik pembenihan, para pembenih juga sangat dianjurkan mengetahui kriteria benih yang sesuai dengan SNI. Berikut ini merupakan kriteria mutu benih ikan nila hitam berdasarkan SNI 01-6140-1999, yang terdiri dari kriteria kualitatif (Tabel 1) dan kriteria kuantitatif (Tabel 2).

Kriteria
Larva
Benih
Asal
Hasil penetasan telur dari pemijahan induk kelas pokok antara induk jantan dan induk betina bukan satu keturunan (jangan inbreeding)
Larva berumur sekitar 7 hari, hasil pemijahan induk kelas induk pokok antara jantan dan betina yang tidak satu keturunan
Warna
Hitam
Bagian perut berwarna putih, bagian punggung berwarna gelap sampai hijau kelabu
Bentuk tubuh
Normal
Normal
Gerakan
Bergerak di permukaan sampai dasar wadah
Bergerombol di permukaan tepi wadah dan aktif menyongsong air baru serta ekor bergerak sangat cepat sehingga tidak terlihat jelas gerakannya

Kriteria
Satuan
Larva
Pend.I
Pend. II
Pend. III
Umur
Hari
7
30
60
90
Panjang total
Cm
0,6 – 0,7
3-5
5-8
8-12
Bobot minimal
Gram
0,02
1,5
3,0
15
Keseragaman ukuran
%
90
90
80
80
Keseragaman warna
%
90
90
100
100
Keseragaman kelincahan gerak akibat rangsangan luar
%
80-90
90-100
90-100
90-100
Keseragaman gerak melawan arus
%
80-90
90-100
90-100
90-100
Ukuran panen
Cm
3-5
5-8
8-10
10-12

TEKSTUR TANAH YANG ADA DI LAPANG

Melalui praktikum waktu di Blitar,kolam tersebut menggunakan tekstur tanah berpasir atau tanah resogol yang dapat digunakan dalam dilakukan  pemupukan dan kesuburan perairan, maka didapatkan beberapa aplikasi ilmu tanah dalam perikanan, antara lain adalah:
  1. Kita dapat menentukan jenis dan tekstur tanah apa yang baik untuk membuat kolam budidaya, terutama jenis kolam tradisional yang paling baik menggunakan jenis tanah lempung berpasir.
  2. Pembudidaya ikan dapat mengetahui jenis pupuk mana yang baik untuk suatu kolam budidaya dalam parameter kesuburan kolam dan kepadatan plankton.
  3. Banyak pembudidaya di kolam maupun di tambak menggunakan tanah jenis lempung berpasir, karena tingkat porositasnya yang rendah dan banyak mengandung unsur – unsur hara.
  4. Pemberian dosis pupuk (baik organic maupun pupuk buatan) yang tepat bagi kolam dan kesuburan kolam budidaya.
  5. Kita dapat menentukan suatu tekstur tanah dengan mengetahui cara pengambilan contoh tanah baik secar utuh ataupun sederhana, sehingga dapat pula menentukan tingkat porositas suhu tanah yang hendak digunakan untuk substrat kolam tradisional.
  6. Dapat mempelajari ilmu tanah, pembudidaya akan dapat mengetahui baik pH tanah, pH perairan, dan oksigen terlarut (DO) yang optimum bagi suatu kolam budidaya.

KONDISI LINGKUNGAN DI SEKITAR KOLAM BUDIDAYA

Kolam tempat budidayanya bersebelahan dengan sungai yang mengalir dan tidak terlalu deras sehingga dapat dimanfaatkan sebagai sumber air untuk budidaya.Kondisi lingkungan kolam budidaya agar tetap baik dan terjaga harus memiliki kriteria sebagai berikut :
 1.Lokasi
Dalam pemilihan lokasi, tekstur tanah adalah bagian yang perlu diperhatikan. Jenis tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat berpasir (Badan Standardisasi Nasional, 2006). Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar dan tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam.
2.Kemiringan tanah
Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3?5% untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi. Kawasan perkolaman bebas banjir dan penceamaran serta sesuai dengan rencana tata ruang dan wilayah. Ikan gurami dapat tumbuh normal, jika lokasi pemeliharaan berada pada ketinggian 1?400 m di atas permukaan laut (Badan Standardisasi Nasional, 2006).
3.Sumber air
Sumber air merupakan faktor dominan yang menentukan keberhasilan budidaya gurami dengan kualitas air yang baik. Sumber air dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu air permukaan dan air tanah. Air permukaan adalah air yang mengalir masuk ke kolam mengikuti arah gravitasi misalnya saluran irigasi, air hujan, air sungai, air danau dan mata air. Air tanah yang berasal dari sumur, baik sumur artesis maupun sumur dalam. Air yang baik yaitu tidak tercemar oleh cemaran fisik, kimia dan biologi dari alam, industri, pemukiman dan pertanian (Badan Standardisasi Nasional, 2006). Salah satu syarat utama budidaya gurami adalah air yang bersih. Karena itu hindari pemakaian air yang keruh dan kotor. Sebab jika kotoran itu bercampur dengan pakan, bakal memicu timbulnya bakteri, parasit dan cacing (Agus, 2001).


4.Kualitas Air
Konsentrasi oksigen terlarut sangat penting bagi parameter kualitas air karena dibutuhkan dalam berbagai aktifitas fisik ikan. Kandungan oksigen optimum yang dapat menunjang pertumbuhan ikan adalah 2 mg/l (Badan Standardisasi Nasional, 2006).
Gurami tergolong ikan yang sangat peka terhadap perubahan suhu. Menurut Khairuman dkk (2003) gurami tergolong ikan yang peka terhadap suhu rendah sehingga jika suhu perairan lebih rendah daripada kisaran suhu optimal, gurami tidak akan produktif. Ikan mempunyai batas suhu tinggi dan rendah serta suhu optimal untuk pertumbuhan, inkubasi telur, konversi makanan dan resistensi/ketahanan terhadap penyakit tertentu. Batas optimim suhusangat bergantung pH, kandungan oksigen dan faktor lain seperti ketinggian tempat, kedalaman air dan cuaca. Suhu optimal untuk pertumbuhan adalah 25?300C (Badan Standardisasi Nasional, 2006).
Ikan gurami dapat tumbuh dengan baik pada perairan dengan kisaran pH 5?10. Namun pH optimum yang dapat menunjang perkembangan dengan baik adalah 6,5?8,5
Cara menetralkan pH yang terlalu asam dilakukan dengan penambahan kapur (CaCO3) atau soda kue ke dalam air dan jika terlalu basa dilakukan dengan penambahan asama fosfor .
Sisa pakan berlebih merupakan sumber amoniak. Pada pH tinggi, amoniak menjadi bentuk tidak ter?ion yang beracun. Perubahan mendadak dapat mengakibatkan insang rusak. Nafsu makan ikan dan pertumbuhan akan terhambat pada konsentrasi 0,08 mg/l, dan kematian akan terjadi pada 0,1 mg/l.
Fluktuasi (perubahan) alkalinitasyang cukup drastis akan membahayakan ikan. Kejadian itu dapat dicegah bila perairan mempunyai system buffer yang memadai (mengandung mineral bikarbonat, bikarbonat, borat dan silikat).

Kekeruhanmempengaruhi daya ikat air terhadap oksigen. Air keruh menyebabkan ikan kekurangan oksigen, nafsu makan berkurang, batas pandang ikan berkurang serta tertutupnya insang oleh partikel lumpur. Menurut Khairuman dkk (2003), gurami paling menyukai perairan yang jernih, tenang dan tidak banyak mengandung lumpur. Kecerahan air optimum yang dapat menunjang kehidupan ikan gurami yaitu 40?60

Aspek Ekonomis                
Lahan yang digunakan dapat menunjang keberlangsungan usaha budidaya, antara lain akses jalan dan pasar. Kemudahan transportasi dapat memperlancar penyediaan sarana dan prasarana budidaya. Kemudahan memasarkan hasil panen ke pasar bahkan pembeli bisa langsung dapat mendatangi lokasi panen budidaya dan memberi tambahan keuntungan bagi pembudidaya.
Aspek Sosial
Area budidaya harus memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar, antara lain meningkatnya pengetahuan dan keterampilan masyarakat, kesempatan usaha dan penyerapan tenaga kerja, serta memenuhi kebutuhan protein hewani. Dengan pemberdayaan masyarakat di sekitar lokasi dapat menjamin keamanan areal budidaya dan keberhasilan usaha.









Tumbuhan Pakis

Makrofita Melayang Bebas


Di buat oleh :

Nama : Peldy Taribuka

Nim : 2014-63-054

Mata kuliah : Biologi Laut

Prodi : MSP

 


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS PATTIMURA

AMBON

2015



BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG

Salvinia natans umumnya dikenal pakis yang dapat hidup tahunan yang mengambang di air yang sepintas mirip dengan lumut. Salvinia, merupakan sebuah genus dalam Famili Salviniaceae , pakis yang mengambang ini diberi nama dari Antonio Maria Salvini yang merupakan seorang ilmuwan dari Italia pada abad ke-17 untuk memberikan suatu penghormatan kepadanya. Genus ini diterbitkan oleh Séguier , di Pl. Veron.  3: 52, 1754. Salvinia natansmerupakan tanaman yang heterosporous, yang memproduksi spora dengan ukuran dan bentuk yang berbeda. Bentuk dari Salvinia natans bagian sisi atas daunnya mengambang, bagian yang muncul menghadap sumbu batang yang merupakan morfologi abaksial. Daunnya berkarang, jadi dalam 1 ruas terdapat 3 daun sekaligus. 2 daun merupakan daun yang dapat dilihat mengambang yang berfungsi untuk mengambang, sedangkan 1 daun terakhir tenggelam ke dalam air. Tidak mempunyai akar, namun daun yang tenggelam itulah yeng menggantikan fungsi akar dengan dilengkapi adanya seperti rambut-rambut tersebut.Daun yang terendam dikelilingi oleh membran indusia basifixed (sporokarp). Sporokarp terdiri dari 2 jenis, megasporangia yang jumlahnya sedikit dan mikrospora dengan jumlah yang banyak.  Megagametofit dan mikrogametofit menonjol melalui dinding sporangium.Megagametofit mengambang di permukaan air dengan arkegonia mengarahkan ke bawah, mikrogametofit didinding sporangium. Mikrogametofit kecil mirip rambut yang tumbuh, yang dikenal sebagai folikel mikrogametikal, belum diketahui memiliki fungsi produktif, dan saat ini masih menjadi misteri biologis.(Anonim1, 2009)

Gambaran secara umun dari Salvinia natans ini adalah sebuah kompleks yang terkait erat dengan pakis air abadi yang mengambang yang sulit untuk membedakan satu genus dari Salvinia. Sering ditanam sebagai tanaman hias air, namun telah lolos budidaya dan menjadi berbahaya di berbagai daerah di seluruh dunia. Tergantung pada kondisi lingkungan, tanaman menunjukkan berbagai bentuk pertumbuhan, dari bentuk menyerang primer dengan daun flat kecil dengan bentuk tersier atau tikar yang besar, banyak, daun dilipat. Dalam kondisi yang menguntungkan tanaman dapat membentuk tikar padat lebih dari ½ m (2 kaki) tebal. Mats dapat membatasi kegiatan rekreasi di danau dan air, meningkatkan banjir dan stagnasi, menggusur tanaman asli dan hewan, dan kualitas air menurun. Di mana itu bisa dikelola dengan hati-hati, Salvinia telah digunakan untuk menghilangkan kelebihan gizi dan polutan lainnya dari air. Diperkenalkan pertama kali dari daerah tropisAmerika Selatan. Salah satu dari genus Salvinia, yaituSalvinia weevil (Cyrtobagus salvinae) telah berhasil digunakan sebagai agen biokontrol di Afrika dan Australia. Weevil telah memperkenalkan tanaman inike Amerika Serikat Selatan. (Anonim3,2008)

Bentuk tanaman dewasa: Batangnya horisontal tepat di bawah permukaan air, kadang-kadang bercabang. Daun 3-whorled, dengan 2 mengambang, 1 terendam. Mengambang di atas permukaan air dan permukaan daun tertutup bulu kedap air berukuran sekitar 2-4 mm yang menyimpang menjadi 4 cabang di dekat bagian atas. Daun mengambang dari bentuk utama yang datar, bentuk oval dengan sedikit basa lobed untuk obovate dengan basis berbentuk bajiberukuran sekitar 8-15 mm. Daun mengambang dari bentuk tersier yang padat banyak, 2-lobed di ujunglebarnya sekitar 25-60 mm ketika dilipat, biasanya lebih luas daripada yang lama. Daun mengambang dari bentuk sekunder adalah menengah ke bentuk primer dan tersier. Daun terendam adalah akar-seperti, keputihan, halus membedah beberapa menjadi filamen sampai 2 cm dengan rambut seperti proyeksi di sepanjang panjang. Kemungkinan fungsi dari daun yang tenggelam adalah sebagai pelindung sporokarp dan stabilisator untuk mencegah atau mengurangi kemungkinannya terbawa arus air. (Anonim4,2011)

B.    TUJUAN

1.     Adapun tujuan penulisan dari Makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu syarat nilai mata kuliah  TUMBUHAN AIR yang diberikan oleh Ibu Tupan selaku Dosen Mata Kuliah TUMBUHAN AIR.
2.    Untuk memperlajari dan memperdalam ilmu pengetahuan mengenai Makrofita terapung bebas (miambang) salvinia natans.
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Taksonomi Salvinia natans
Hierarki klasifikasi dari Salvinia natans adalah
Kingdom         : Plantae
Divisi               : Pteridophyta
Class                : Pteridopsida
Ordo                : Salviniales
Famili              : Salviniaceae
Genus              : Salvinia
Spesies            : Salvinia natans (Anonim1,2009)

Spesies-spesie lain yang merupakan genus yang sama dengan Salvinia natans antara lain Salvinia auriculata, Salvinia biloba, Salvinia cucullata,Salvinia cyathiformis, Salvinia hastate, Salvinia herzogii, Salvinia minima, Salvinia molesta, Salvinia natans, Salvinia nymphellula, Salvinia oblongifolia,Salvinia radula, Salvinia rotundifolia, Salvinia spruce. (Anonim3,2008)

B.     Morfologi Salvinia natans
Tinggi                   : 1 cm - 3 cm
 Lebar                   : 5 cm - 10 cm
 Suhu                    : 12-30 ° C
 pH                       :  5,5-8 
 Jenis                    : Fern atau Paku
 Zona                    : 10 sampai 11
 Rentang asli        : Eropa Selatan, Afrika Utara, Asia
 Penyebaran          : 0,25-1 kaki
 Bunga                  : tidak berbunga
 Penyinaran          : teduh
 Habitat                : Basah
 Pemeliharaan       : Menengah
 Penggunaan        : Taman Hujan, Cocok sebagai Tahunan, Tanaman Air (Anonim5, 2006)

Bentuk daunnya kecil, mengambang di air dengan batang merayap yang disebut stolon, bercabang, rambut bantalan tetapi tidak ada akar yangsesungguhnya.  Daun di ruas berjumlah 3, dengan 2 daun hijau, sessile atau pendek-petioled, datar, dan mengambang. 1 daun halus tenggelam, petiolate, seperti akar, dan independen.  Terendam daun bantalan sori yang dikelilingi oleh membran indusia basifixed (sporokarp). Sporokarp terdiridari 2 jenis, baik bantalan megasporangia yang sedikit jumlahnya (10 ca.), masing-masing dengan megaspora tunggal dan  mikrosporangia, masing-masing dengan 64 mikrospora. Spora dari 2 jenisitu bentuknya bulat.  Megagametofit dan mikrogametofit menonjol melalui dinding sporangium. Megagametophytes mengambang di permukaan air dengan arkegonia diarahkan ke bawah. Mikrogametofit tetap terdapat di dinding sporangium.  Mikrogametofit kecil mirip rambut, yang dikenal sebagai folikel mikrogametikal, belumdiketahui memiliki fungsi produktif. (Anonim6, 2007)
Setiap S. natans memiliki dua nikel daun yangberbaring secara datar menghadap permukaan air, dan daun ketiga selalu terendam dan berfungsi sebagai akar.  Flotasi ini dimungkinkan oleh kantung udara di dalam daun.  Kutikula papilaberfugsi agar daun tidak cepat basah jadi tidak mudah busuk, kutikula papila terdapat pada permukaan daun. (Anonim2,2009)

Perkembangan Megasporangium dan Mikrosporangium

1.                    Megasporangium
Di dalam megasporangium mula-mula terdapat 8 sel induk spora, kemudian membentuk 32 megaspora, namun dari semua jumlah tersebut hanya ada satu yang eksis. Selama perkembangan megaspora plasma sel melepaskan diri dari sel tapetum dan dari spora-spora lain yang telah mengalami degenerasi, sehingga terbentuk jaringan terdiri dari banyak rongga-rongga yang dinamakan perisporium atau episporium. Jaringan perisporium di ujung spora lebih tebal. Pada bagian ujung terdapat celah yang berhubungan dengan ruangan bercabang 3. (Suratman, 2011)
2.                   Mikrosporangium
Di dalam mikrosporangium terdapat 16 sel induk spora, sehingga akan terbentuk 64 spora yang semuanya akan masak. Pada saat itu, plasma sel mengental dan membentuk masa bulat yang disebut masula. (Suratman, 2011)

D.    Perkembangan Gametofit
Mikrospora berkecambah menumbuhkan mikro-protalium (mikrogametofit) berbentuk buluh pendek, terdiri dari beberapa sel dan mempunyai 2 anteridium yang masing-masing menghasil;kan 4 spermatozoid. Gametofit ini sangat sederhana dan berkembang di dalam sporangium. Dinding sporangium tidak membuka, tetapi di suatu tempat ditembus oleh mikroprotalium sehingga spermatozoid dapat bergerak bebas. Sedangkan makrospora tetap di selubungi sporangium, keduanya terlepas dari tumbuhan induk dan berenang pada permukaan air. Makrospora berkecambah membentukmakroprotalium pada ujungnya. Makroprotalium memiliki beberapa arkegonium, tetapi hanya salah satu telur yang dibuahi dalam arkegonium dan mampu berkembang menjadi embrio. (Suratman, 2011)

E.     Kegunaan Salvinia natans
      S. Natans menutupi bagian permukaan air sehingga ini sangat membantu untuk ikan air tawardalam menyediakan tempat persembunyian yang aman untuk berkembang biak. Salvinia natans dapat mencakup seluruh kolam atau danau tanpa kompetisi ekologi dan makanan spesies tanaman lainnya.  S. natans umumnya digunakan dalam akuarium sebagai tanaman hias mengambang.Salvinia telah digunakan untuk menghilangkan kelebihan gizi dan polutan lainnya dari air. (Anonim5, 2006)

F.      Dampak Nigatif dari Salvinia natans
 Tumbuhan ini dapat mengganggu fotosintesis tanaman bawah air dan megganggu pertumbuhan dari alga yang terdapat dalam kolam tersebut.Mats dapat membatasi kegiatan rekreasi di danau dan air, meningkatkan banjir dan stagnasi, menggusur tanaman asli dan hewan, dan kualitas air menurun. (Anonim5,2006)

G.    Distribusi Salvinia natans
Distribusi asli dari S. natens adalah Afrika untuk Aljazair , Mesir , Libya , Maroko , dan Tunisia , di Asia untuk Afghanistan , Azerbaijan , Cina (di provinsi-provinsi Monggol , Ningxia , Qinghai , Shaanxi , Shandong , Shanghai , Shanxi , Sichuan , Tianjin , Xinjiang , Xizang , Yunnan , dan Zhejiang ), Siprus , India (di Jammu dan Kashmir ), Indonesia (di Jawa ), Iran , Irak , Israel , jordan , Kazakhstan , Lebanon , barat laut Pakistan , di Federasi Rusia (dalam Ciscaucasia dan Siberia Barat , Amur dan Primorye ), Jepang (di Honshu , barat Kyushu , dan Shikoku prefektur), Korea , Arab Saudi , Suriah , Taiwan , Thailand , Turki , Uzbekistan , dan di Eropa untuk Belarus , Belgia , Bulgaria , negara-negara dalam  Eropa bagian selatan dari Federasi Rusia, Spanyol , Ukraina , dan negara-negara dalam bekas Yugoslavia . (Anonim1, 2009)



BAB III
PENUTUP

Kesimpulan:

1.        Salvinia natans merupakan salah satu kelas Pterophyta atau paku yang mengambang di permukaan air atau hidup di aquatik.
2.        Habitus Salvinia natans adalah mengambang di permukaan air dengan menggunakan 2 daun yang mengambang dan 1 daun tenggelam yang berfungsi seperti akar dan melindungi sporokarp, tingginya sekitar 1-3 cm, lebar 5-10 cm, tidak berbunga, daun langsung menempel pada batang atau yang disebut stolon pada tanaman ini .
3.        Manfaat dari Salvinia natans antara lain menyediakan tempat ikan air tawar untuk persembunyian sehingga aman untuk perkembang biakan, digunakan sebagai tanaman hias pada aquarium, dan untuk menghilangkan kelebihan gizi dan polutann lainnya dari air.
4.        Dampak negatif dari Salvinia natans antara lain dapat mengganggu fotosintesis tanaman bawah air dan alga, membatasi kegiatan rekreasi di kolam, meningkatkan banjir, meningkatkan stagnasi, menggusur tanaman asli dan hewan serta menurunnya kualitas air.


Adaptasi Morfologi Tumbuhan Yang Hidup Di Air

adaptasi morfologi tumbuhan yang hidup di air



Adaptasi pada tumbuhan dapat menyebabkan perbedaan yang sangat nyata pada
tumbuhan. Berdasarkan morfologi tubuhnya, tumbuhan dibagi menjadi beberapa
macam, antara lain tumbuhan hidrofit, higrofit, dan xerofit.





1) Tumbuhan hidrofit Eceng gondok




Tumbuhan hidrofit adalah tumbuhan yang hidup di air dalam waktu yang lama.
Tumbuhan ini mengapung di permukaan air, berdaun lebar dan tipis, memiliki lapisan
kutikula yang tipis dan mudah ditembus air. Contohnya adalah teratai dan eceng
gondok.





2) Tumbuhan higrofit (tumbuhan paku)





Tumbuhan higrofit adalah tumbuhan yang hidup di lingkungan yang basah.
Contohnya adalah keladi.

Tumbuhan ini memiliki ciri ciri ;

1. lapisan pelindung sel yang terdapat di sekeliling organ reproduksi,
2. embrio multiseluler yang terdapat di dalam arkegonium,
3. lapisan kutikula pada bagian luar tubuh,
4. sistem transportasi internal yang berfungsi sebagai pengangkut air dan zatzat mineral dari dalam tanah,
5. struktur tubuh terdiri atas bagian­bagian akar, batang dan daun,
6. akarnya berupa rizoid yang bersifat seperti akar serabut dengan ujung
dilindungi kaliptra,
7. batangnya pada umumnya tidak tampak (kecuali tumbuhan paku tiang)
karena terdapat di dalam tanah berupa rimpang, menjalar, atau sedikit tegak,
8. daunnya yang muda umumnya melingkar atau menggulung





3) Tumbuhan Xeroflt



1 . yaitu tumbuhan yang menyesuaikan diri dengan lingkungan yang
kering,
2. contohnya kaktus.
3. Cara adaptasi xerofit. antara lain mempunyai daun berukuran kecil atau
bahkan tidak berdaun (mengalami modifikasi menjadi duri), batang dilapisi